PEMANFAATAN DAUN BAMBU UNTUK PENGEMBANGAN SEDIAAN VITAMIN C LEPAS LAMBAT

Bambu, merupakan salah satu jenis rumput – rumputan yang termasuk ke dalam family Graminae dan masih banyak terdapat disekitar kita terutama daerah pedesaan. Bambu biasanya dimanfaatkan untuk bahan konstruksi rumah seperti dinding, tiang dan atap. Tapi daun belum banyak dimanfaatkan, padahal kandungan abu daun bambu dari daun bambu sebesar 20%  dengan kandungan silika sebesar 75.90 – 82.86%. Sedangkan kandungan silika abu daun bambu ini merupakan yang terbesar kedua setelah abu sekam padi yaitu sebesar 93.2%.

Sementara itu, Seiring dengan padatnya kegiatan manusia membuat tidak sedikit orang yang mengonsumsi obat untuk meningkatkan stamina tubuh. Namun dengan frekuensi dan dosis yang masih tinggi dalam system kerja obat dalam tubuh, membuat harus mengomsumsi dalam skala frekuensi lebih kecil setiap hari. Pengembangan sediaan lepas lambat sangat dibutuhkan dalam menambah frekuensi menjadi lepas obat ke dalam tubuh yang secara perlahan sehingga pelepasannya lebih lama dan memperpanjang kerja obat.

Salah satu obat yang dapat  diaplikasikan sebagai obat lepas lambat adalah vitamin C. Vitamin C yang merupakan obat bebas pada umumnya berupa suplemen yang sering dikonsumsi. Salah satu cara untuk meningkatkan efektivitas kinerja vitamin C adalah dengan mengembangkan material nanosilika. Penggunaan sediaan lepas lambat pada vitamin C yang berpendukung nanosilika akan memberikan manfaat untuk memperpanjang waktu paruh vitamin C dalam tubuh.

Berdasarkan hal tersebut mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) melakukan penelitian tentang Pengembangan Sediaan Vitamin C Lepas Lambat dengan Pemanfaatan Material Nanosilika Daun Bambu (Bambusa Sp.). Para mahasiswa tersebut terdiri dari Zamhariroh Marsa Fajarwati, Rama Chrismara, Asmi Aris dengan pembimbing Dr. Kun Sri Budiasih, M.Si.

Marsa Fajarwati menjelaskan, daun bambu yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun bamboo petung. Proses penelitian meliputi sintesis nanosilika daun bambu. Pada proses ini daun bambu dicuci dengan air, dilanjutkan dengan proses pengeringan dibawah sinar matahari selama 2 hari dan dibakar. Abu yang diperoleh kemudian di kalsinasi dengan furnace pada temperatur 8000C selama 6 jam dan dicuci menggunakan HCl 0,1 M, dan seterusnya.

Tahap selanjutnya, lanjut Marsa, adalah pembuatan sediaan vitamin C berpendukung nanosilika. Tablet vitamin C generik dimasukkan dalam mortar, dan dihaluskan. Selanjutnya diayak dengan ayakan mesh 12. Kemudian dicampur dengan material nano silika dan diayak dengan pengayak mesh 60. NSC(Nanosilika vitamin C) yang terbentuk dikeringkan dalam lemari pengering bersuhu 60ºC selama 3 jam. NSC(Nanosilika vitamin C) kering diayak dengan pengayak mesh 80. Lalu dikempa dan dicetak dengan mesin tablet. Setelah itu dilakukan pengujian sediaan lepas lambat dengan uji in-vitro.

Dari uji karakteristik tablet, hasil sifat fisik tablet lepas lambat yaitu pada bobot 170,28 mg, diameter 0.72 cm, kekerasan 0.676 kg/cm2, dan waktu hancur 1.4%.

“Diharapkan, penelitian ini bisa memberikan solusi mengenai pengembangan sediaan obat dengan pemanfaatan material nanosilika dalam bidang medis”, tambah Marsa. (witono)